Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Alasan Kenapa Saya Menggunakan GNOME Sebagai Desktop Environment di Linux

 
Sekarang saya sudah beralih dari Pantheon-nya Elementary OS ke Manjaro dengan Desktop Environment GNOME, pada dasarnya saya sudah lama mengenal GNOME ini sejak pertama kali Ubuntu  18.4 meninggalkan Unity dan beralih ke GNOME sebagai Desktop Environment Defaultnya, dan setelah saya coba, ternyata GNOME cukup asik juga untuk digunakan, meskipun memang saya lebih suka dengan kesederhanaan dari apa yang Pantheon berikan.

Nah berhubung sekarang saya menggunakan Manjaro dengan Desktop Environment GNOME, ada baiknya saya juga membahas sejumlah alasan kenapa saya mengguanakan Desktop Environment ini, bukan KDE, buka LXDE, bukan yang lainnya, dihati saya cuma ada dua, Pantheon dan GNOME saja. 

GNOME Extensions


Nah ini alasan saya yang pertama dan alasan saya yang paling utama, GNOME memiliki sejumlah Extensi yang bermanfaat untuk digunakan dan tentu dengan extensi tersebut, kita bisa menambah fungsi dan mengubah tampilan dari top panel menjadi lebih baik dari apa yang default nya berikan. 

Saya sendiri memiliki lima Extensi wajib yang selalu saya install, diantaranya adalah Add Username to Top Panel,  Clipboard Indicator, Floating Dock, NetSpeed, dan Sound Input & Output Device Chooser, dan berikut adalah extensi jika sudah diterapkan. 


Tidak lupa, ada extensi lain juga yang saya aktifkan, termasuk Unite, Removable Drive Menu, dan Pamac Update Indicator. 

Lima dari extensi tersebut selalu saya gunakan terlepas dari apapun Distro Linux yang saya gunakan, dan mungkin pada artikel selanjutnya saya akan membahas kelimanya dengan lebih lengkap dan lebih mendalam, stay tune di blog sayugi saja ya. 

Tampilan Yang Simple dan Minimalis

Selain dari GNOME Extensions, Desktop Environment GNOME ini juga tampak lebih simple dan minimalis, dan itulah alasan saya lebih suka dengan GNOME dibandingkan Desktop Environment lain, sama halnya dengan Pantheon yang juga memiliki User Interface yang hampir serupa. 


Definisi simpel menurut saya disini adalah, dalam Desktop Environment itu harus ada dua bagian penting ini, Dock dan Panel, bebas terlepas apapun namanya, entah itu Dock-nya Plank atau Panelnya adalah Wingpanel, saya suka selama ada dua bagian tersebut. 

Selain itu saya juga kurang terlalu suka dengan Icon di Desktop, dan kerennya di GNOME, kita bisa mematikan atau menghidupkan fungsi Icon in Desktop dengan sangat mudah. Selain itu tentu untuk Opsi tema sendiri, Gnome memiliki banyak pilihan tema yang dapat dipilih dan di download dari halaman https://gnome-look.org/.

Fitur Aduhai

Dari fitur sendiri, saya rasa jika dibandingkan dengan Pantheon maka saya akan lebih pilih GNOME, ada dua bagian penting yang saya suka dari bagian ini, scroll behavior di Dock dan Unite di Top Panel. 

Meskipun GNOME sendiri menyediakan berbagai tampilan layout yang bisa dikustomisasi tergantung preferensi pengguna, saya selalu menggunakan konfigurasi default, Dock di kanan, dan Top Panel yang sudah dikostumisasi dengan extensi unite dibagian atas. 

Mengenai Dock, saya selalu menggunakan Floating Dock agar tampilannya lebih menarik dibandingkan Dock default yang diberikan, selain itu saya juga selalu mengaktifkan dua fitur penting ini di Dock, Click Actions saya set Minimize dan Scroll behavior saya set ke Switch Workplace. 


Selain itu bagian Top Panel selalu saya kombinasikan dengan beberapa extensi yang telah saya sebutkan sebelumnya, termasuk Unite yang mengubah tampilan menjadi lebih baik dengan mirip seperti Unity di Ubuntu versi lama. 


Contohnya seperti pada gambar diatas, saya menggunakan Unite untuk memudahkan dan memperluas layout dengan memindahkan posisi Window Control pada bagian kiri dan menyatu dengan Top Panel, mirip Unity dan Mirip Mac OS. 
 
Selain itu saya juga mengaktifkan System Tray di Settings Extensi Unite, sehingga dengan itu seperti yang dapat kamu lihat pada bagian kiri, ada beberapa aplikasi yang berjalan di Background dan dapat dengan mudah saya akses dengan cepat, tentu hal ini cukup memudahkan dan membantu produktifitas saya dalam dunia Linux ini. 

Aplikasi Default Yang Memudahkan Hidup Saya

Di Elementary OS dengan Pantheonnya saya akui memang simple, namun itu terlalu simpel karena beberapa aplikasi penting tidak dihadirkan secara default, sebut saja Gnome Disk dan System Monitor yang memang terkadang saya gunakan. 

Dan di GNOME, meskipun saya melakukan instalasi OS dengan opsi Minimal Instalations, ada sejumlah aplikasi yang memang dihadirkan, dan diantaranya adalah GNOME Disk, System Monitor, dan Déjà Dup salah satu aplikasi Backup Favorit saya di Linux, dan aplikasi lainnya.

Untuk aplikasi sih memang itu tergantung dengan preferensi masing masing, namun bagi saya GNOME is easy to use, cukup install, saya sudah bisa langsung bekerja dengan baik, terlebih GNOME memang dimaksudkan sebagai Desktop Environment yang membuat nyaman dan fokus pada pekerjaan utama pengguna nya. 

Kekurangan 

Saya juga heran, kenapa kekurangan masuk ke alasan saya menggunakan GNOME, bukannya masuk ke alasan saya malas menggunakan GNOME. Namun membicarakan kekurangan tersebut, ya saya akui GNOME itu agak berat terlebih ketika membuka Application Menu (Show Applications) dari Dock, itu animasinya lambat parah, jika saya menggunakan perangkat lama saya, namun untuk sekarang, di Asus K401UQK dengan Core i5 7200U, IntelHD 630, GeForce 940MX, SSD dan RAM 20 GB, saya rasa tidak ada masalah dan saya cukup nyaman dengan Desktop Environment ini terlepas dari masalah dia memang berat jika digunakan diperangkat dengan spesifikasi rendah. 

Selain itu kita juga bisa memodifikasi untuk mematikan animasi agar beban grafis tidak terlalu berat, untuk masalah RAM, dengan Usage 700 MB Idle saya rasa bukanlah menjadi masalah, mengingat bahwa Windows 10 bahkan lebih parah. 
 
Selain itu saya juga coba Install Ubuntu Gnome di Acer Aspire 4352 saya sebelum saya jadikan home server, meskipun memiliki RAM 2 GB dan Chipset Intel Celeron B815 yang hanya dualcore dual thread, Gnome memang bisa berjalan cukup nyaman. 

Namun tentu untuk kamu yang mencari Desktop Environment yang memprioritaskan diri pada performa dan kecepatan GNOME bukan pilihan yang tepat untuk kamu, silahkan gunakan XFCE untuk alternatifnya. 

Kesimpulan

Saya memilih GNOME adalah karena GNOME itu simpel, mudah untuk dikustomisasi dengan opsi Extensionnya dan tentu tampilannya tidak terlalu tua dan menyegarkan bagi saya. 

Namun perlu diketahui kembali, bahwa tulisan ini hanyalah pendapat saya, karena selera orang itu pasti berbeda beda terlebih di Linux ada sejumlah Desktop Environment yang memang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing masing. 

Nah apa kamu suka juga dengan Gnome?, jika tidak kamu lebih suka Desktop Environment apa dong? share dibawah guys. 
Gylang Satria
Gylang Satria Part of WinPoin . Don't forget to follow my Twitter @gylang_satria. Also, you can visit my other blog at www.gylang.my.id

Post a Comment for "Alasan Kenapa Saya Menggunakan GNOME Sebagai Desktop Environment di Linux"